Kamis, 23 April 2020

Hati-hati dengan Hari Ini


Teruntuk kamu yang berkegiatan hari ini, terulang-ulang dari minggu yang lalu, apapun itu. Rutinitas yang dikendalikan pandemi, mengantarkan kamu ke perputaran yang tidak berhenti; merasa berhasil mengalahkan waktu di hari itu. Selamat, kamu memasuki fase--yang orang-orang suka menyebutnya dengan kalimat--a new normal

Dikutip dari 'Medium: alur waktu dari suatu kebiasaan' yang membahas tentang studi ilmiah dari kebiasaan, biasanya terbentuk dalam waktu 2 bulan--66 hari lebih tepatnya--dan 256 hari secara penuhnya. 

Salah satu jebakan dari kondisi sekarang yaitu bisa terjadinya rutinitas yang mematikan semua hal. Kreatifitas dan produktifitas adalah salah satunya. Semua orang memiliki pilihan atas apa yang dilakukannya setiap hari. Termasuk untuk mematikan hal-hal tersebut. 

Menurut berbagai berita, WFH dimulai pada waktu awal bulan maret seiring dengan seruan pemerintah-pemerintah setempat. Dari waktu tersebut, sampai sekarang akhir bulan april terhitung sudah hampir 2 bulan. Dan mengikuti data di atas, waktu-waktu sekarang adalah waktu yang rentan akan terbentuknya kebiasaan baru tersebut. 

Ribuan aktifitas bisa dijelajahi dalam kesadaran penuh. Ribuan rencana bisa direalisasikan dengan tetap tidak menyalahi aturan. Dan ribuan hal baik bisa dilakukan dengan penuh keridhoan. Tinggal bagaimana cara kita untuk mengkompromikan hal itu dengan diri kita sendiri. 

Membaca buku yang sudah lama tersimpan, menonton list film yang tertunda, memasak masakan dengan sepenuh hati, mungkin bisa menjadi salah satu opsi. Dan hal-hal dengan berwangikan agama juga bisa menjadi pilihan. 

Apapun yang berhubungan dengan kegiatan positif, bisa jadi alat bantu untuk membunuh waktu di saat kebingungan ini masih berlangsung.

Berhati-hati dalam membuat pilihan tidak akan membuat kita berada pada ujung jurang juga. Awasi hari, awasi diri. Pilihanmu membawamu ke arah a new normal yang tidak tau kapan akan berlalu. 

Rabu, 22 April 2020

Apa yang Harus Didengarkan dari Perempuan Kulit Hitam di Hidden Figures?



Amarah, kebencian, dan segala sesuatu tentang ketidakadilan terpampang jelas di keseluruhan kehidupannya. Cape, lelah mungkin letih dan lesu juga jadi satu bagian yang lekat kalau misalkan saya memposisikan diri ke dalam tokoh-tokoh tersebut. 

Hidden Figures merupakan film yang bercerita tentang tiga orang perempuan ahli matematika double minoritas dengan berlatar belakangkan perempuan dan African-American, yang bekerja dalam bidang teknologi di perusahan besar NASA. Katherine Johnson, Dorothy Vaughan dan Mary Jackson jika kamu mencari nama mereka, semua sumber pasti menceritakan tentang perempuan no 1 di berbagai bidang NASA tersebut.

Film berfokus pada penceritaan mengenai porsi dari tiga orang perempuan, dalam misi penerbangan friendship 7 dipiloti John Glenn untuk terbang mengorbit bumi pada tahun 1962 yang tidak terceritakan sejarah. Katherin bertugas untuk menjadi "komputer manusia" yang mengkalukasikan lintasan dan landasan pada kapal yang akan dipakai. Sedangkan Mary bertugas menjadi engineer kapal dan mengurus lapisan-lapisan dari materialnya. Dan Dorothy bertugas menjadi supervisor dari mesin perkalian angka yang bernama IBM. 

Tidak mudah untuk ketiga orang ini menempati posisinya yang sekarang. Kendala Katherin menjadi satu-satunya perempuan dan "berwarna kulit" di satu ruangan dengan berisikan laki-laki penggila science, membuat dia berpikir ini tidak akan mudah. Pemisahan toilet dan pemisahan tempat minum membuat saya kesal untuk menerimanya. Sedangkan Mary yang diharuskan mengikuti pendidikan terlebih dahulu dengan akses yang susah, beralasankan khusus untuk orang kulit putih. Dan Dorothy dengan ketidakadilan yang tidak jelas hanya beralasan orang berkulit hitam. 

Menyakitkan rasanya melihat sesuatu seperti pilih kasih dikarenakan kondisi yang tidak mereka pilih. Bisa dibayangkan tentang pilih kasih atasan, kolega pekerjaan, akses pendidikan, sampai ke toilet, termos air dan kursi bus kota pun ikut-ikutan pilih kasih. Semua itu hanya dikarenakan warna kulit. 

Diskriminasi rasial merupakan salah satu hal yang kelam dari bagian sejarah Amerika Serikat. Mengkotak-kotakan orang dengan melihat dari apa dan bagimana warna kulit mereka. Terlebih dilihat dari jenis kegiatannya, menjadikan mereka double minoritas yang harus bertahan untuk sebuah pekerjaan. 

Saya termenung saat di scene Harison yang berusaha menghapus pengkotak-kotakan toilet, dengan berlandaskan teriakan Katherin akan ketidakadilan yang berdampak pada kecepatan pekerjaannya. Akhirnya ada yang mendengarkan juga. 

Sudah sepatutnya semua manusia mempunyai hak yang sama dalam apapun mengenai kehidupannya. Berkaca dalam film tersebut, kenapa bisa seperti itu memang sangat berkaitan erat dengan terpengaruhnya akan sejarah yang sangat menyakitkan. Tetapi mungkin masa depan tidak akan seperti itu. Seperti kata pepatah, memaki ruangan gelap memang tidak ada gunanya. Berdamai dengan masa lalu adalah jalan terbaiknya. Sesuatu yang bisa kita lakukan sebagai respon dari pertentangan ini adalah menyalakan lilin untuk ruang gelap tersebut. Yaitu dengan mendengarkan dan menghargainya. Mari dengarkan haknya, dan hargai keberadaanya. Kathrine dan teman-temannya sudah jelas merangkum semua teriakan itu menjadi satu kata. Teriakan yang sampai sekarang masih menggema jika keadilan tersebut masih tidak terlihat. Teriakan itu adalah teriakan tentang kemanusiaan. 

Senin, 20 April 2020

Menghangatkan gara-gara Narkoba di We're The Millers


Menghangatkan gara-gara Narkoba di We're The Millers

Pengharapan citra film keluarga tiada lain bakal merujuk pada persoalan-persoalan keluarga yang klise. Bisa jadi mengenai harta warisan, anak-anak dengan kekuatan paranormal, perceraian orang tua, ataupun tentang anak yg ditinggal liburan. Citra tersebut tidak saya temukan di film komedi keluaran tahun 2013 ini. Film tentang keluarga tapi bukan untuk keluarga, film kejahatan tapi isinya bukan cerminan para penjahat. 

Ada salah satu aspek yang terbalut dari We're the Millers sehingga menyebabkan film ini tidak menyuguhkan drama perkeluargaan semata. Aspek tersebut merupakan aspek yg kotor dan sangat tidak patut untuk dimasukan pada kehidupan perkeluargaan nyata. 

Bercerita mengenai seorang pengedar narkoba kelas bawah yang dipaksa oleh bosnya untuk menyelundupkan ganja dari Meksiko menuju USA, sebagai ganti dari hutang yang dipunyainya. Tidak tanggung-tanggung, kesepakatannya berisi mengenai 2 ton ganja. Cara yang dipakai David untuk menjalankan rencananya cukup sederhana nan cerdik, yaitu dengan memakai topeng keluarga sebagai jalan untuk melewati perbatasan. David merekrut bocah laki-laki 18 tahun tetangga apartmentnya, seorang wanita 21 tahun tunawisma pencuri koin wartel, dan juga seorang tetangga wanita paruh baya penari strip club. Mereka berakhir menjadi sebuah keluarga yang bernama The Millers. Dengan bersenjatakan RV, keluarga ini siap memulai "liburan musim panas"nya. 

Balutan kental komedi terasa konstan antara loncatan di setiap scienenya. Komedi dalam We're the Millers banyak terkandung dari blue dan dark commedy yang merujuk pada hal-hal jorok dan kelam pada gaya melucunya. Kata-kata kasar, cacian, dan ejekan sering kali keluar dari setiap dialog pemerannya, yang sangat jauh dari pengharapan film suatu keluarga. Dan mengejutkannya, saya sangat setuju tentang semua hal-hal itu. Alhasil meskipun rating imdb 7/10, rotten tomatoes 47%, saya sendiri memberinya rating 8,5/10. 

Meskipun bukan film keluarga pada umumnya, saya bisa merasakan banyak siratan-siratan nilai dari sebuah kehangatan keluarga. Seperti saling memperhatikan, saling mengkhawatirkan, dan saling melindungi antara satu sama lain. Sangat mengejutkan sih, pengaharapan yg gagal pada awal mengenal film ini, direalisasikan dengan baik pada beberapa adegan-adegannya.

Setelah beberapa drama penjahat dan konflik dari keluarga palsu ini, David berhasil mengantarkan ton-an dari ganja tersebut ke tangan bosnya. Dengan dilengkapi penyergapan dadakan dari polisi narkoba yang ditemui David dalam perjalanan penyelundupannya, sebagai keluarga yang benar-benar keluarga. 

Film We're the Millers berhasil mempermainkan pengharapan saya dengan cara yang baik. Tidak disangka-sangka juga bukan, disini saya bisa melihat kehangatan suatu "keluarga" dikarenakan narkoba? Mengejutkan. Atau mungkin memang benar membuat menghangatkan?

Kamis, 16 April 2020

Surat Kecil Buat Para Pemangku Privilese Lebih


Surat Kecil Buat Para Pemangku Privilese Lebih

Di kondisi yang serba membingungkan seperti ini, banyak dari kita yang semakin sadar akan betapa jelasnya keadilan itu. Iya, jelas terasa ketimpangannya. Ada yg di atas, di bawah, dan mungkin ada juga yg di keraknya. 

Pagi tadi saya termenung setelah melihat nasi putih yg masih halus itu. Mungkin masaknya kurang matang, atau mungkin penanak nasinya yg mulai usang entahlah. Eluhan dari pikiran ga terbendung, namun sesaat teringat teman  pernah bercerita, tentang perjuangan mata pencahariannya sebagai penjual cimol yg terhenti total efek kondisi dari pandemi ini. Dan terpaksa menahan teriakan perut selama 2 hari. Termenung dan berpikir saat itu seakan privilese menampar saya dan berkata kalo dia sedang ada di pihak saya. Otomatis menyingkirkan rasa eluhan, dan melanjutkan santapan dgn berpikiran apakah ini yg namanya berkah?

Padahal Tuhan sudah adil memberikan berkah-Nya. Tapi bukankah berkah turun untuk kaum yg di atas dulu, dan untuk kaum yg di bawah turun dari kaum yg di atas? Jika benar, seringkali orang-orang yg di atas ini mandek akan niat bagusnya, dengan berlandaskan skeptis dan tingkat empatinya yg kurang. Apakah kamu termasuk orang tersebut? Semoga tidak. 

Saya pikir kamu, kita, sekarang adalah orang-orang yg beruntung sedang ada di atas ketimpangan ini. Sudah seharusnya kita menjadikan ini sebagai embanan tugas untuk melanjutkan jalan berkah yang telah Tuhan berikan. Bukankah ini kesempatan bagus untuk membuktikan bahwa kita adalah contoh dari sebaik-baiknya manusia yang melihat manusia lainnya? Bukankah ini saat yg tepat untuk membuktikan kepada diri sendiri kalo kita adalah manusia?

Bagi mereka, mungkin tidak ada yg namanya berkah, yg ada hanyalah beras, minyak, dan sesederhananya lauk pauk. Oh atau mungkin, besok bisa menghirup pagi juga merupakan berkah, meskipun kelaparan juga.

Meskipun privilese tidak menjamin kalo orang itu pasti baik. Tapi privilese bisa membukakan kesempatan orang itu untuk menjadi baik. Maka privilese mana lagi yg kamu dustakan? Atau, berkah mana lagi yg kamu pura-purakan?

Minggu, 12 April 2020

Prasangka dan Modern Love Eps. 6


Cerita akan percintaan tidak melulu soal tabrakan ditengah jalan, benci menjadi cinta, ataupun tentang pandangan pertama saja. Bisa jadi lebih luas dari pada si miskin dan si kaya, lebih rumit dari suatu perjodohan, dan mungkin lebih memusingkan dari pada kata terserah. Sudut pandang tentang cinta yang luas membuat kita sadar, bahwa menceritakan tentang suatu kisah dari hal tersebut tidak pernah ada kata "membosankan". 

Itulah yang saya dapatkan setelah menonton serial televisi yang dihadirkan oleh Amazon studios tersebut. Modern love mengisahkan banyak cermin tentang berbagai macam perjalanan “cinta” dari rasa dan keresahan orang – orang saat ini. Tentang kepercayaan dari sebuah kebetulan, lika – liku kehidupan yang dipandang sebelah mata, penghianatan dan kesempatan kedua, sampai arti dari sebuah sejatinya cinta tertera rapih dari lonjakan setiap episodenya.

Salah satu bagian dari laju episodenya modern love menyajikan satu keresahan pada muda – mudi dewasa ini yang cukup menyayat hati. Pada episode 6 film ini menceritakan tentang satu buah pikiran dari dua orang manusia yang saling salah mengartikan. Sebuah ide yang memang cukup sulit disampaikan dengan benar, jika tidak didampingi dengan jurus komunikasi yang apik. Apalagi kalo bukan tentang prasangka.

Prasangka adalah milik semua orang, milik saya, kamu, dan juga milik Peter. Sesuai atau tidak prasangka tersebut, tidak berpengaruh pada jalan pikiran Peter yang terus menerus mengikuti hasratnya untuk memiliki Maddy. Begitupun dengan Maddy, dia memiliki prasangkanya sendiri terhadap Peter. Dengan berlatar belakangkan anak yatim, pikiran Maddy melihat sosok yg pantas untuk dijadikan figure itu. Sayangnya prasangka kedua orang tersebut tidak bertemu dengan mulus, berakhir dengan menghasilkan rasa kecewa dan amarah yang amat dalam.

Alur cerita berjalan dengan konflik yang singkat dengan perbedaan kedewasaan yg sangat ketimpang jauh antara Peter dan Maddy. Salah satu klue sederhana prasangka Maddy terlihat dari judul episode yang diberikan yaitu, "So He Looked Like Dad. It Was Just Dinner, Right?". Untuk Peter prase tersebut bisa berubah menjadi “Maybe we could be more than this”. Kedua prase yang tidak saling bertemu bukan?

Prasangka memang selalu bersemayam di dalam pikiran kita. Terbuat dari ingatan, terkendali oleh pikiran, dan tersampaikan oleh perbuatan. Seringkali dua dari tiga hal itu tidak selaras dengan apa yang inginkan. Alhasil prasangka tersebut tidak sukses tersampaikan. Kasus Peter dan Maddy menjadi salah satu contoh yang cukup sederhana. Maddy berpikir dengan mendekati peter, dia bisa mendapat sesosok seorang ayah. Dan Peter pikir, pendekatan Maddy merupakan kesempatan bagus untuk memulai kehidupan barunya. Prasangka yang tidak bertemu, penyampaian yang kurang baik, tidak sesuai arahan pikiran, cuman membuat kekesalan bukan?

Pengendalian prasangka ini bisa jadi hal yang rumit untuk dilakukan. Dengan catatan jika tidak dilakukan dari awal. Tapi apakah kamu yakin mau melakukannya?