Rabu, 22 April 2020

Apa yang Harus Didengarkan dari Perempuan Kulit Hitam di Hidden Figures?



Amarah, kebencian, dan segala sesuatu tentang ketidakadilan terpampang jelas di keseluruhan kehidupannya. Cape, lelah mungkin letih dan lesu juga jadi satu bagian yang lekat kalau misalkan saya memposisikan diri ke dalam tokoh-tokoh tersebut. 

Hidden Figures merupakan film yang bercerita tentang tiga orang perempuan ahli matematika double minoritas dengan berlatar belakangkan perempuan dan African-American, yang bekerja dalam bidang teknologi di perusahan besar NASA. Katherine Johnson, Dorothy Vaughan dan Mary Jackson jika kamu mencari nama mereka, semua sumber pasti menceritakan tentang perempuan no 1 di berbagai bidang NASA tersebut.

Film berfokus pada penceritaan mengenai porsi dari tiga orang perempuan, dalam misi penerbangan friendship 7 dipiloti John Glenn untuk terbang mengorbit bumi pada tahun 1962 yang tidak terceritakan sejarah. Katherin bertugas untuk menjadi "komputer manusia" yang mengkalukasikan lintasan dan landasan pada kapal yang akan dipakai. Sedangkan Mary bertugas menjadi engineer kapal dan mengurus lapisan-lapisan dari materialnya. Dan Dorothy bertugas menjadi supervisor dari mesin perkalian angka yang bernama IBM. 

Tidak mudah untuk ketiga orang ini menempati posisinya yang sekarang. Kendala Katherin menjadi satu-satunya perempuan dan "berwarna kulit" di satu ruangan dengan berisikan laki-laki penggila science, membuat dia berpikir ini tidak akan mudah. Pemisahan toilet dan pemisahan tempat minum membuat saya kesal untuk menerimanya. Sedangkan Mary yang diharuskan mengikuti pendidikan terlebih dahulu dengan akses yang susah, beralasankan khusus untuk orang kulit putih. Dan Dorothy dengan ketidakadilan yang tidak jelas hanya beralasan orang berkulit hitam. 

Menyakitkan rasanya melihat sesuatu seperti pilih kasih dikarenakan kondisi yang tidak mereka pilih. Bisa dibayangkan tentang pilih kasih atasan, kolega pekerjaan, akses pendidikan, sampai ke toilet, termos air dan kursi bus kota pun ikut-ikutan pilih kasih. Semua itu hanya dikarenakan warna kulit. 

Diskriminasi rasial merupakan salah satu hal yang kelam dari bagian sejarah Amerika Serikat. Mengkotak-kotakan orang dengan melihat dari apa dan bagimana warna kulit mereka. Terlebih dilihat dari jenis kegiatannya, menjadikan mereka double minoritas yang harus bertahan untuk sebuah pekerjaan. 

Saya termenung saat di scene Harison yang berusaha menghapus pengkotak-kotakan toilet, dengan berlandaskan teriakan Katherin akan ketidakadilan yang berdampak pada kecepatan pekerjaannya. Akhirnya ada yang mendengarkan juga. 

Sudah sepatutnya semua manusia mempunyai hak yang sama dalam apapun mengenai kehidupannya. Berkaca dalam film tersebut, kenapa bisa seperti itu memang sangat berkaitan erat dengan terpengaruhnya akan sejarah yang sangat menyakitkan. Tetapi mungkin masa depan tidak akan seperti itu. Seperti kata pepatah, memaki ruangan gelap memang tidak ada gunanya. Berdamai dengan masa lalu adalah jalan terbaiknya. Sesuatu yang bisa kita lakukan sebagai respon dari pertentangan ini adalah menyalakan lilin untuk ruang gelap tersebut. Yaitu dengan mendengarkan dan menghargainya. Mari dengarkan haknya, dan hargai keberadaanya. Kathrine dan teman-temannya sudah jelas merangkum semua teriakan itu menjadi satu kata. Teriakan yang sampai sekarang masih menggema jika keadilan tersebut masih tidak terlihat. Teriakan itu adalah teriakan tentang kemanusiaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar