Surat Kecil Buat Para Pemangku Privilese Lebih
Di kondisi yang serba membingungkan seperti ini, banyak dari kita yang semakin sadar akan betapa jelasnya keadilan itu. Iya, jelas terasa ketimpangannya. Ada yg di atas, di bawah, dan mungkin ada juga yg di keraknya.
Pagi tadi saya termenung setelah melihat nasi putih yg masih halus itu. Mungkin masaknya kurang matang, atau mungkin penanak nasinya yg mulai usang entahlah. Eluhan dari pikiran ga terbendung, namun sesaat teringat teman pernah bercerita, tentang perjuangan mata pencahariannya sebagai penjual cimol yg terhenti total efek kondisi dari pandemi ini. Dan terpaksa menahan teriakan perut selama 2 hari. Termenung dan berpikir saat itu seakan privilese menampar saya dan berkata kalo dia sedang ada di pihak saya. Otomatis menyingkirkan rasa eluhan, dan melanjutkan santapan dgn berpikiran apakah ini yg namanya berkah?
Padahal Tuhan sudah adil memberikan berkah-Nya. Tapi bukankah berkah turun untuk kaum yg di atas dulu, dan untuk kaum yg di bawah turun dari kaum yg di atas? Jika benar, seringkali orang-orang yg di atas ini mandek akan niat bagusnya, dengan berlandaskan skeptis dan tingkat empatinya yg kurang. Apakah kamu termasuk orang tersebut? Semoga tidak.
Saya pikir kamu, kita, sekarang adalah orang-orang yg beruntung sedang ada di atas ketimpangan ini. Sudah seharusnya kita menjadikan ini sebagai embanan tugas untuk melanjutkan jalan berkah yang telah Tuhan berikan. Bukankah ini kesempatan bagus untuk membuktikan bahwa kita adalah contoh dari sebaik-baiknya manusia yang melihat manusia lainnya? Bukankah ini saat yg tepat untuk membuktikan kepada diri sendiri kalo kita adalah manusia?
Bagi mereka, mungkin tidak ada yg namanya berkah, yg ada hanyalah beras, minyak, dan sesederhananya lauk pauk. Oh atau mungkin, besok bisa menghirup pagi juga merupakan berkah, meskipun kelaparan juga.
Meskipun privilese tidak menjamin kalo orang itu pasti baik. Tapi privilese bisa membukakan kesempatan orang itu untuk menjadi baik. Maka privilese mana lagi yg kamu dustakan? Atau, berkah mana lagi yg kamu pura-purakan?
Meskipun privilese tidak menjamin kalo orang itu pasti baik. Tapi privilese bisa membukakan kesempatan orang itu untuk menjadi baik. Maka privilese mana lagi yg kamu dustakan? Atau, berkah mana lagi yg kamu pura-purakan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar